Senin, 23 Mei 2011

Pertumbuhan dan Pembangunan Kabupaten Jember Nurul Farhanah H, 0806328644




            Peran kawasan perkotaan dalam pembangunan nasional dan daerah sangatlah penting. Kawasan perkotaan umumnya merupakan tempat berkembangnya kawasan industry manufaktur dan jasa yang menawarkan peluang bagi peningkatan nilai tambah perekonomian secara keseluruhan.  Perbandingan antarnegara menunjukkan bahwa kemajuan pembangunan suatu negara senantiasa diiringi arus transformasi yang ditandai dengan meningkatnya penduduk perkotaan dan meningkatnya kontribusi sector-sektor industry manufactur dan jasa-jasa.
            Permasalahan perkembangan perkotaan dapat dibedakan menjadi dua. Permasalahan yang mencakup eksternal kota dan dari dalam kota itu sendiri.  Salah satu factor eksternal yang akan mempengaruhi perkembangan suatu kota adalah keterkaitannya dengan kota-kota lain, baik dalam maupun luar negeri, serta keterkaitan dengan hiterlandnya atau daerah pedesaan di sekitarnya. Sering keterkaitan ini terwujud sebagai bentuk system kota-kota. Keterkaitan ini akan terjadi apabila dipandang dapat melalui pergerakan barang, jasa, bahan, manusia, uang, kredit dan investasi. Keterkaitan atau interaksi ini memegang peranan penting dalam pembentukan pola dan struktur system perkotaan dan dalam merangsang perkembangan kota.
            Sejumlah kota mengalami perkembangan dan pemekaran. Sebuah kota mengalami pertumbuhan dan perkembangan dipihak lain ada kota-kota yang mulai ditinggalkan karena berkembangnya suatu wilayah diposisi yang lain. Hal seperti ini terjadi hampir di seluruh kota-kota di Indonesia. Mengapa hal ini bisa terjadi? Ada dua factor yang mempengaruhinya, yang pertama factor sejarah dan factor kebijakan politik.  Kota-kota di Indonesia dalam proses  pertumbuhan dan perkembangannya dipengaruhi oleh factor sejarah yang dialami oleh kota itu sendiri. Sejarah kota yang beragam antar satu kota dengan kota yang lainnya dan relative lama waktunya. Proses terbentuk wilayah dan kota ini berbeda dengan proses yang dialami negara maju seperti Amerika dan Eropa. Di Indonesia banyak mendapat pengaruh colonial Belanda yang telah menjajah bangsa ini selama  tiga setengah abad. Tidak murni bentukan kerajaan-kerajaan Indonesia  Hal ini terjadi hampir di seluruh wilyah di Indonesia. Bahkan dapat dikatakan bahwa kita belum mampu membentuk sendiri wilayah struktur kota kita, adanya percampuran klasik (bentuk pedesaaan)kerajaan-kerajaan Indonesia dan pengaruh barat ( colonial belanda). Dari factor kebijakan politik, perencanaan wilayah menggunakan model top down planning atau pembangunan dari atas ke bawah.  Pembangunan ini penuh dengan kepentingan politik ekonomi dan elite.  Pembangunan wilayah dipandang sebagai fungsi dari kondisi keseimbangan harga (price equilibrium) yang meyakini bahwa mobilitas factor-faktor produksi akan selalu mengarah pada wilayah-wilayah yang paling menguntungkan. Pandangan ini melahirkan teori-teori seperti Cummulattive Causation Theory (Karl Gunnar Myrdal) Growth Pole Theory (Francois Perroux, Albert O. Hirschman), dan Core-Periphery Theory (Friedmann).  Secara umum, teor-teori di atas menyatakan bahwa kemajuan wilayah dapat dijalarkan dari pusat-pusat yang besar ke pusat-pusat yang lebih kecil secara hierarkis melalui keterkaitan ekonomi yang baik bersifat ke belakang (backward linkage) maupun ke depan (forward linkage).  Dari teori-teori tersebut munculah konsep-konsep yang menggambarkan gejala penjalaran pembangunan seperti spread effect, backwash effect, multiplier effect, trickle-down effect, dan polarization effect.
            Teori Pusat-Pinggiran (Core-Periphery Theory) oleh John Friedman ini banyak terjadi system perkotaan dunia ketiga.  Bahwa pada skala regional terdapat hirarki pusat-pusat pertumbuhan. Hirarki tersebut ada tiga tingkatan. Tingkatan yang pertama ada pusat pertumbuhan primer merupakan pusat utama dan dapat dikatakan sebagai daerah perangsang. Kedua ada pusat pertumbuhan sekunder yang lebih rendah tingkatannya dibandingkan dengan pusat pertumbuhan primer merupakan daerah pertama yang akan mendapat rangsangan dari pusat pertumbuhan primer. Setelah mendapatkan rangsangan daerah ini menjadi daerah  perpanjangan rangsangan ke daerah-daerah yang tidak di jangkau oleh pusat pertumbuhan primer. Dengan kata lain pusat  pertumbuhan sekunder berfungsi memperluas dampak perambatan.  Ketiga ada pusat pertumbuhan Tersier. Merupakan daerah pertumbuhan bagi daerah terbelakang. Tahapan system perkotaan sebagai berikut. Pertama dicirikan dengan tingginya tingkat isolasi masing-masing kota, struktur permukiman sangat terbatas, kecilnya skala ekonomi dan rendahnya mobilitas. Kedua, kota dengan aksesbilitas bagus, proses kapitalisasi dan industrialisasi lebih cepat muncul sebagai pusat dominan. Aka nada proses difusi dari pusat dominan ke pusat-pusat baru yang lebih kecil. Keempat system perkotaan semakin terintegrasi dan seimbang  terjadi spesialisasi ekonomi di masing-masing kota dan berkembanngnya sarana transportasi.
            Teori Cummulative Causation oleh Kalr Gunnar Myrdal. Teori ini mengatakan bahwa “ penjalaran dampak industry terhadap social ekonomi berjalan menurut pola sirkulatif-kumulatif. Ekspansi industry yang berawal dari pusat pertumbuhan (growth centre) akan menyebabkan meluasnya keuntungan internal dan eksternal industry sehingga memperkuat pertumbuhan namun dengan mengorbankan daerah lain. Muncul istillah backwash effect (penjalaran ke daerah belakang) dan trickledown effect (penetesan pembangunan ke daerah-daerah di sekitarnya)
            Teori Kutub pertumbuhan, teori ini dicetuskan oleh ahli ekonomi kelahiran Perancis bernama Francois Perroux (1903-1987), yang dikenal juga sebagai penganut aliran ekonomi keseimbangan umum. Kutub pertumbuhan didifinisikan sebagai suatu gugus industri yang mampu membangkitkan pertumbuhan ekonomi yang dinamis dalam suatu sistem ekonomi  tertentu, mempunyai kaitan yang kuat melalui hubungan input – output di sekitar leading industry (propulsive industry atau industrial matrix). Gugus ini mempunyai sifat saling keterkaitan  antar sektor ekonomi.  Sektor ekonomi  atau industri yang tumbuh cepat diposiskan sebagai generator pertumbuhan karena mampu menerapkan teknologi yang tinggi, mengembangkan inovasi serta memiliki elastisitas pendapatan  terhadap permintaan produk yang dihasilkannya.  Kemudian produk ini dijual ke pasar nasional secara luas dan mempunyai mutiplier effect terhadap segmen ekonomi lainnya. Industri-industri yang dominan dan propulsif terdapat di kota-kota kutub pertumbuhan wilayah. Konsentrasi dan saling keterkaitan merupakan dua faktor penting dalam setiap pusat pengembangan karena melalui faktor-faktor tersebut akan dapat diciptakan berbagai bentuk aglomerasi ekonomi yang dapat menunjang pertumbuhan industri yang bersangkutan melalui penurunan ongkos produksi. Keuntungan aglomerasi yang merupakan kekuatan utama pengembangan wilayah dapat berupa scale economies, localization economies, atau urbanization economies. Teori Kutub Pertumbuhan merupakan teori yang menjadi dasar dalam strategi dan kebijaksanaan pembangunan industri daerah yang banyak dijalankan di berbagai negara. Pada awalnya, konsep ini dianggap penting karena memberikan kerangka rekonsialiasi antara pembangunan ekonomi regional di wilayah pusat (kota) dan hinterland-nya Tetapi dalam praktek tidak seperti yang diharapkan karena wilayah pusat dampak tetesan (trickle down effect) kepada wilayah hinterlandnya ternyata jauh lebih kecil dari pada dampak polarisasi  (backwash effect) sehingga pengurasan sumberdaya hinterland oleh pusat menjad sangat menonjol.
            Jember adalah salah satu kabupaten di provinsi jawa timur.  Secara geografis letaknya tidak terlalu strategis, walaupun kabupaten jember menjadi daerah penghubung ke bali, banyuwangi menuju Surabaya.  Kabupaten jember dibentuk berdasarkan Staatbland Nomor 322 tanggal 9 Agustus 1928  dan sebagai dasar hukum mulai berlaku tanggal 1 Januari 1929. Pemerintah Hindia Belanda telah mengeluarkan ketentuan tentang penataan kembali pemerintah desentralisasi di wilayah Provinsi Jawa Timur . Terbentuklah Regenschap jember dengan tujuh wilayah distrik. Luas kabupaten Jember 3.293,34 Km 2 dengan ketinggian 0-3330 mdpl.  Bagian selatan Kabupaten Jember adalah datran rendah dengan titik terluarnya Pulau Barong. Pada kawasan ini terdapat Taman Nasional Meru Betiri yang berbatasan dengan Kabupaten Banyuwangi. Bagian barat berbatasan dengan Kabupaten Purbolinggo. Bagian timur merupakan bagian dari rangkaian Dataran Tinggi Ijen.  Jember mempunyai 3 simpul utama dalam transportasi. Stasiun Jember merupakan stasiun terbesar di kabupaten ini merupakan pusat dari Daops IX Jember yang mengatur stasiun-stasiun kecil lainnya di Tanggul, Rambipuji, dan Kalisat. Ada terminal Bus “Tawang Alun” yang merupakan terminal utama yang melayani jalur Surabaya-Jember-Banyuwangi melewati kota Lumajang. Selain itu, juga terdapat terminal-terminal kecil yang dihubungkan oleh angkutan luar dalam kota seperti terminal Ajung, Terminal Pakusari dan lain-lain.  Pada transportasi udara ada bandara local yang sudah dibuka untuk umum. Bandara ini melayani penerbangan Jember- Surabaya.
            Pada masa pemerintahan colonial belanda kabupaten jember dijadikan daerah hinterland bagi karasidenan Besuki Situbondo yang saat itu dijadikan pusat administrasi (politik) pemerintahan dan kegiatan ekonomi yang berlangsung hingga abad ke 1970-an.  Kabupaten Jember dan Banyuwangi yang merupakan daerah yang subur dijadikan daerah persawahan dan perkebunan sebagai suplai kebutuhan pangan untuk kerasiden Besuki Situbondo yang merupakan daerah kurang subur.  Pertimbangan daerah Besuki Situbondo dijadikan pusat pemerintahan, hal ini dilihat dari keunikan ekologis yang dimiliki Kerasidenan Besuki Situbondo yaitu memiliki 3 taman nasional. Taman Nasional Meru Betiri, Taman Nasional Alas Purwo dan Taman Nasioanal  Baluran di Situbondo. Selain ketiga taman nasional, ada juga cagar alam Kawah Ijen yang digunakan sebagai kawasan konservasi, kegiatan penelitian dan rekreasi.  Dari perspektif ekonomi, kota Besuki secara geografis merupakan kota pantai (palabuhan) sebagai tempat berlabuhnya kapal-kapal niaga Belanda skala regional jawa timur. Sebagai kota pelabuhan, kota Besuki mempunyai posisi strategis sebagai sentra kegiatan ekonomi untuk mengangkut hasil bumi-pertanian, perkebunan dan periikanan hasil bumi pertanian, perkebunan dan perikanan kabupaten jember. Dilihat dari perspektif social budaya, wilayah karesidenan Besuki di huni sebagian besar oleh etnis-etnis Madura. Etnis Madura memiliki temperal yang sulit diatur tidak seperti orang jawa. Nah sebagian etnis-etnis Madura ini dikirim oleh pemerintah colonial belanda dikirim ke Situbondo, Bondowoso, Lumajang, Probolinggo jember dan perkebunan karet,kopi,tembakau, tebu milik belanda di daerah pertanian yang subur dipekerjakan sebagai buruh atau jonggos. Kondisi geografis,  etnis Madura berada di wilayah utara kerasidenan Besuki yang relative tandus dan panas dianggap menjadi alasan yang menyebabkan etnis Madura memiliki temperal yang keras dan suka membangkang. Sementara itu, ada alasan politis tersendiri mendatangkan etnis Madura di Karesidenan Basuki untuk menahan riak-riak perlawanan jika sewaktu-waktu dilakukan oleh rakyat jawa timur.
            Keberlanjutan perkembangan suatu wilayah dan kota-kota tergantung aturan-aturan dan regulasi yang diberlakukan oleh pemerintah. Dalam dinamika wilayah dan kota-kota, antara perpolitikan nasional, regional dan perpolitikan local suatu kota terjalin erat (Ruland, 1996).  Pada awal-awal masa pemerintahan orde baru tahun 1970-an, kota Besuki Situbondo masih dijadikan pusat administrasi (politik) pemerintahan wilayah karesidenan, namun aktivitas ekonomi secara berangsur bergeser ke kabupaten Jember. Pergeseran  atau perpindahan secara pasti terjadi ketika secara administratif  akhir  tahun 1970-an kantor pembantu Gubernur Wilayah VII dipindah ke kabupaten Jember.  Perpindahan tersebut mempunyai implikasi ekologis, ekonomi, social budaya dan politik terhadap perkembanngan dinamika kota Besuki Situbondo hingga saat ini. Perpindahan pusat pemerintahan karesidenan Besuki, dalam perspektif ekologi pembangunan adalah bahwa pemerintah colonial Belanda cenderung menjadikan daerah yang relative kurang subur sebagai pusat administrasi pemerintahan. Daerah yang subur tetap dimanfaatkan secara maksimal sebagai daerah pertanian dan perkebunan, budidaya dan penelitian serta tempat rekreasi dan peristirahatan sehingga dapat mensuplai ke daerah yang kurang subur. Sementara itu, pemerintah orde baru cenderung menjadikan daerah-daerah subur sebagai pusat pemerintahan. Akibat dari kebijakan politik semacam ini, maka daerah-daerah  yang tingkat kesuburannya rendah menjadi semakin tertinggal. Situbondo dan Bondowoso contoh daerah yang tertinggal secara ekonomi karena katerbatasan sumberdaya alam yang tersedia jika dibandingkan dengan Jember dan Banyuwangi.  Sementara itu, keunikan ekologis yang dimiliki oleh Karesidenan Besuki tetap dipertahankan oleh pemerintah Indonesia dimanfaatkan sebagai tempat penelitian, rekreasi da budidaya sekaligus peningkatan derajat kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.  Kawasan tertentu lainnya di Kabupaten Jember dan Banyuwangi yang juga mempunyai unsure ekologis lebih tetap dipertahankan sebagai tempat peristirahatan dan wisma pemerintahan daerah. Dampak lain dari pergeseran pusat pemerintahan ini dilihat dari segi geografis dan ekonomis, kota besuki yang merupakan kota pantai (pelabuhan laut) yang dapat dilabuhi oleh kapal-kapal niaga skala regional jawa timur menjadi tidak begitu signifikan bagi perkembangan ekonomi karesidenan Besuki.  Hadirnya transportasi darat yang didukung oleh majunya sector pendidikan di kabupaten Jember, mengakibatkan stagnasi perkembangan ekonomi di kabupaten Situbondo dan Bondowoso, karena pintu masuk barang-barang logistic beralih ke kabupaten Jember.  Setiap pekan, kota Jember menjadi padat dan macet karena masyarakat Situbondo, Bondowoso, Banyuwangi dan Lumajang yang ingin berbelanja di Supermarket (Mall) datang berbelanja ke Jember.   Mulai muncul Perguruan Tinggi Negeri dan Swasta yang mengundang masyarakat pendidikan untuk datang sekolah dan kuliah di kota Jember.
            Berdasarkan fakta yang telah disebutkan di atas, saya menyimpulkan bahwa strategi pembangunan kabupaten Jember merupakan jenis pembangunan dari atas dengan pandangan teori “Cumulative Causation” oleh Karl Gunnar Myrdal. Dimana di situ disebutkan bahwa Pertumbuhan dan perkembangannya suatu kota mengorbankan daerah yang lain. Di sini bisa kita lihat pertumbuhan dan perkembangan kabupaten Jember mengorbankan Kota besuki dan Situbondo. Pergeseran pusat pemerintahan dari kota Besuki ke Kabupaten Jember ternyata berdampak besar terhadap pertumbuhan kabupaten Jember. Mulai ada institusi pendidikan, mulai padat dan macet karena berbondong-bondong warga ke mall yang berada di Kabupaten Jember. Juga didukungnya sector pertanian yang menjadikan kabupaten Jember tumbuh dan berkembang pesat. Sementara di sini lain, kota Besuki yang dahuku merupakan pusat administrasi, kegiatan ekonomi, kota pelabuhan mulai hilang aktivitasnya. Jadi dapat kita simpulkan Pertumbuhan dan Perkembangan Kabupaten Jember mengorbankan Kota Besuki.
Daftar Bacaan :
S, Tjahjati. Budhy. 2005. Pembangunan Kota Indonesia dalam Abad 21. Jakarta: Urban and Regional Development institute.
Qodim, Hs. Abd.( 2007, July 1). Pertumbuhan dan Perkembangan Kota Jember: Analisis Perbandingan Pewilayahan Pemerintah Kolonial Belanda dengan Pemerintah Indonesia. 14. 55-68.  Maret 21, 2011. jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/171075568.pdf
Setiadi, Hafid. (2009). Konsep Pusat-Pinggiran Sebuah Tinjauan Teoritis.10. 1-9. Maret 21,2011.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar