Senin, 23 Mei 2011

Kelasku, Tempat Aku, si Calon Pemimpin Negeri ini


Apa yang ada dibenakmu ketika terlontar kalimat belajar? Membosankan, males, melelahkan, sesuatu yang tidak menyenangkan, sesuatu yang selalu diinginkan orang tua kita dan guru kita dengan alih-alih kamu akan jadi pintar dan orang  sukses, ngapain sih belajar, mending juga main dan berjuta tanggapan lainnya tentang kata “belajar”. Bagaikan seekor monster yang sangat menakutkan yang dihindari jangan sampai ditemui oleh anak-anak sekolah sampai mahasiswa.  Lucu benar bukan negeri ini, anak-anak yang tugasnya belajar, berada di usia sekolah takut akan kata belajar ini. Sebelum kita mengetahui mengapa kata-kata “belajar” ini dijauhi bahkan cenderung ditakuti oleh para siswa (yang notebene adalah sang pembelajar)?? Kita telaah terlebih dahulu apa sebenarnya makna dari belajar itu sendiri. Hamalik (1990:21) mengatakan belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan  dalam  diri  seseorang yang dinyatakan dalam cara-cara bertingkah  laku  yang  baru berkat pengalaman dan latihan.
“Belajar adalah suatu proses yang ditandai dengan adanya perubahan diri pada seseorang. Inilah yang merupakan sebagai inti proses pembelajaran. Perubahan tersebut bersifat Internasional, positif-aktif dan efek fungsional. Perubahan internasional yaitu perubahan yang terjadi karena pengalaman atau praktek yang dilakukan, proses belajar dengan sengaja dan disadari bukan secara kebetulan. Perubahan yang bersifat positif-aktif yaitu, perubahan positif yaitu perubahan yang bermanfaat sesuai  dengan harapan pelajar, disamping menghasilkan sesuatu yang baru dan lebih baik dibandingkan sebelumnya, sedangkan perubahan yang bersifat aktif yaitu perubahan yang terjadi karena usaha yang dilakukan pelajar, bukan terjadi dengan sendirinya. Perubahan yang bersifat effektif yaitu perubahan yang memberikan pengaruh dan manfaat bagi pelajar. [1]
Jadi kata belajar mempunyai dua kata kunci, berubah dan lebih baik. Berubah dari yang tadinya tidak tahu menjadi tahu, yang tahu menjadi lebih tahu. Di sini kita bisa melihat ada proses perubahan menjadi  lebih baik, dari yang tadinya tidak tahu apa-apa karena belajar jadi tahu sesuatu, yang sudah tahu menjadi lebih tahu lagi.  Belajar dapat dilakukan di berbagai tempat, salah satunya di kelas sebagaimana yang sehari-hari kita lakukan. Bagaimana sikap kita saat belajar di kelas?? Apakah duduk manis, melipat tangan dan  mendengarkan ceramah dari guru atau dosen? Sejauh ini selama kurang lebih 15 tahun saya ada di bangku sekolah dan kuliah memang begitu adanya yang disebut belajar di kelas. Duduk manis, melihat ke depan atau papan tulis sambil mendengarkan guru atau dosen.  Bedanya dengan kuliah, saat kuliah kita dituntut untuk lebih banyak melakukan presentasi di depan teman-teman. Adakalanya, presentasi semacam ini seringkali kurang diperhatikan bahkan diacuhkan oleh teman-teman. Sementara metode dosen mengajar sama saja seperti ketika saya kelas satu SD, kelas satu SMP dan selas satu SMA. Bayangkan, ternyata selama ini kita dari jam tujuh pagi sampai jam dua siang hanya sekedar duduk manis mendengarkan guru ceramah. Bayangkan, anak kecil kelas satu SD yang cenderung suka bergerak ke sana ke mari dipaksa duduk tenang. Tidak usahlah kita bayangkan anak kelas satu SD. Coba kita tengok diri kita masing-masing, kadang kita pun tak tahan duduk lama-lama. Tidak ada komunikasi dua arah ketika belajar di kelas. Membosankan, benar tentu sangat membosankan! Ini juga yang saya rasakan selama saya makan bangku sekolah.  Mungkin hal inilah yang membuat cenderung para siswa menjauhi kata “belajar” apalagi belajar di kelas yang ada gurunya, dimana kita mau tidak mau harus mengikuti walaupun dalam hati berkata “BOSEN!!”
     SURABAYA | SURYA Online - Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini memanggil 34 siswa SD hingga SMA yang tertangkap petugas Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP), ketika sedang membolos dengan bermain “game online” atau “play station” dan jalan-jalan di mal” [2]
            Apa yang kita pikirkan dan rasakan ketika membaca berita di atas? Sedih, kecewa, bingung, heran atau segudang perasaan kurang menyenangkan akan kondisi pendidikan di negeri ini. Apakah kita pernah bertanya atau sekedar berpikir barang sejenak, mengapa sampai para pembelajar ini yang seharusnya ada di kelas, malah pergi  ke warnet, jalan-jalan di mal? Mengapa belajar di kelas bukan hal yang menyenangkan? Coba kita lihat bagaimana selama ini kita belajar di kelas.  Belajar di kelas adalah hal yang setiap hari kita lakukan sejak kelas satu SD bahkan sejak taman kanak-kanak. Bertemu dengan teman-teman yang berjumlah sekitar 40an anak dan satu orang guru di ruangan yang sama. Jam pelajaran yang ditetapkan di kelas pun cukup berat, dari pagi pukul 07.00 sampai pukul 14.00 atau bahkan di sekolah unggulan yang biasanya ada yang sampai 16.00 sore.  Kalau kita ambil rata-rata anak-anak yang belajar di kelas sekitar tujuh jam per hari, enam hari dalam seminggu yang tentunya akan menjadi rutinitas mereka. Pertanyaannya sekarang, akankah hal ini menjadi rutinitas favorit? Atau justru dibenci dan dihindari sehingga banyak siswa yang memilih bolos sekolah, seperti berita pada awal paragraf kedua essay ini.  Seharusnya ketika setiap hari bertemu teman-teman, berbagi cerita, bercanda di kelas, serta tentunya belajar bersama, adalah hal yang menyenangkan. Namun mengapa banyak siswa justru malas berangkat sekolah? Bahkan lebih memilih bolos? Di bagian manakah yang salah? siswanya kah? Guru kah? Kedua-duanya kah? Atau suasana dan system belajar yang ada di kelas itu yang membuat kelas bukan menjadi tempat yang menyenangkan bagi para calon pemimpin bangsa yang besar ini? Mari kita coba analisis dan cermati bersama.
Pertama datang ke kelas, kelas gaduh, kotor dan tidak rapi. Cat dinding mulai kusam, bangku mulai reyot. Tentunya melihat hal ini timbul rasa “tidak suka” atau bahkan “kecewa” sehingga menurunkan semangat untuk belajar, bahkan hanya sekedar berada di dalam kelas. Karena bagaimana pun manusia secara naluriah cenderung menyukai keindahan dan kerapihan. Seringkali ketika akan memulai kelas, hal yang pertama kali dilakukan para guru adalah menanyakan PR dengan muka yang ‘dipasang galak’. Ketika ada siswa yang belum mengerjakan PR atau datang terlambat, acapkali mereka langsung diberi hukuman dan dipermalukan di depan umum. Mereka bahkan tidak ditanya alasannya mengapa bisa belum mengerjakan PR atau datang terlambat. Hal inilah yang membuat siswa  merasa “kurang nyaman” karena tidak ada rasa kekeluargaan yang hangat di dalam kelas. Biasanya karena alasan-alasan remeh macam inilah, anak-anak mudah untuk bolos.  Kemudian proses belajar mengajar dimulai dengan guru atau dosen yang berbicara di depan, diikuti siswa yang disuruh duduk, melipat kedua tangan di depan dengan rapi untuk mendengarkan ceramah guru.  Hal ini tentu terasa sangat monoton dan membosankan karena komunikasi hanya berjalan satu arah. Di pihak lain, di sini siswa tidak dilibatkan secara aktif. Hal ini ditambah dengan ‘oleh-oleh’ dari belajar di kelas selama tujuh jam itu adalah tugas juga yang artinya mereka akan mendapatkan tambahan pekerjaan di rumah yang tidak menyenangkan.  Belum lagi kalau gurunya hanya berperan sebagai pengajar yang tugasnya hanya mentransfer materi, bukan pendidik yang seharusnya mentransfer ilmu dan budi pekerti. Seharusnya seorang guru bukan hanya pengajar tetapi sekaligus juga menjadi pendidik. Orang yang selain memberikan ilmu juga yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, mengajarkan akhlak, memberikan semangat dan motivasi supaya nantinya ketika tiba saatnya mereka memimpin negeri ini mereka dapat menjadi pemimpin yang pintar juga bijaksana. Mereka dapat tumbuh menjadi pemimpin-pemimpin yang mampu menopang dan mengubah nasib bangsa Indonesia menjadi lebih cerah, termasuk menolong rakyat yang masih banyak hidup di bawah garis kemiskinan. Inilah tugas mulia seorang guru yang disebut-sebut dengan ‘membentuk pemimpin masa depan’ yang sayangnya justru makin terlupakan dan tergantikan oleh orientasi ‘membentuk siswa pintar dengan nilai tinggi’. Orientasi pada nilai seringkali mengorbankan kualitas budi pekerti. Guru yang seharusnya memupuk terus semangat mereka untuk belajar dan terus menjadi orang yang lebih baik dari hari ke hari, justru ‘menjerumuskan’ anak didiknya dengan ‘orientasi nilai’ yang diusungnya.  Lebih parahnya lagi, sering kali guru tanpa sadar juga memberikan label negative kepada anak didiknya ketika mereka mendapatkan nilai jelek atau ketika tidak mengerjakan tugas dengan baik. Misalnya “dasar kamu bodoh!!, sudah ibu ajari berapa kali tetap saja, nilainya tidak berubah” Tentunya sikap ini bukan contoh sikap bijak dari seseorang yang disebut pendidik. Belum lagi kejadian tidak nyaman dengan teman yang tidak diharapkan, misalnya beradu mulut, berkelahi dan berselisih. Dan juga berbagai kondisi lainnya yang kurang menyenangkan di dalam kelas. Sungguh miris!
            Mari sekarang coba kita benahi kelas-kelas kita di Indonesia ini. Sebuah ruangan kecil yang akan “menggodog” (red. membentuk) para pembelajar yang akan menjadi manusia-manusia hebat Indonesia, calon-calon pencerah nasib bangsa. Namun sebelum itu, mari kita menyamakan persepsi bahwa tidak ada anak yang bodoh, karena semua anak di dunia ini terlahir dengan kecerdasannya masing-masing yang unik, bernilai, dan tak tergantikan. Permasalahan selanjutnya hanyalah  pada suasana atau kondisi lingkungan saja yang membuat mereka malas untuk belajar dan mengembangkan potensi-potensi diri. Komponen lain yang terkait dengan belajar di kelas selain siswa tentu adalah guru. Guru-guru harus menyadari fungsi mereka terlebih dahulu ketika bertemu manusia-manusia hebat yang akan mereka bentuk. Guru bukanlah sebuah poci yang akan menuangkan teh ke dalam cangkir kosong. Bukan seseorang yang menuangkan ilmu ke dalam cangkir kosong (red. siswa). Guru merupakan seorang pengajar sekaligus seorang pendidik yang berkewajiban memberikan nilai-nilai kebaikan, memberikan semangat dan motivasi. Hal lain yang tak kalah penting harus kita pahami adalah  guru juga berperan sebagai fasilitator yang membantu murid menemukan warnanya (red. potensi) masing-masing. Jadi dapat kita sepakati di sini bahwa sebenarnya semua murid cerdas, yang membedakan hanyalah jalannya msing-masing. Sekarang yang perlu kita lakukan adalah bagaimana kita mencari tahu dan menemukan kecerdasan yang dimiliki seorang siswa dan mengembangkannya sesuai dengan potensinya masing-masing.
Sekarang setelah menyamakan main set kita menuju kelas, hal apa lagi yang mesti kita lakukan? Mulailah dari pintu depan kelas. Ya pintu depan kelas, kita buat tulisan yang indah bertulisan penyambutan, misalnya “ Selamat Datang Para Pembelajar Sejati “. Mengapa kita buat tulisan yang seperti ini?? Menurut Erbe Sentabu dalam tulisannya “Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati The Power of Positive Feeling” , Ada Hukum Daya Tarik Menarik (The Universal Law of Attraction) “Manusia adalah magnet, dan setiap detail peristiwa yang dialaminya datang atas daya tarik-menarik (undangan)nya sendiri (1906: Elizabeth Towne)[3] hukum tarik-menarik ini menyatakan, “Sesuatu akan menarik  pada dirinya segala hal yang satu sifat dengannya”. Inilah alasan mengapa ketika kita memutar tombol turning radio ke 99,9 FM  maka siaran radio 99,9 FM lah yang akan kita dengar. Nah seperti itu pula harapannya ketika siswa pertama kali menginjakkan kaki di kelas adalah sambutan bahwa dia adalah pembelajar sejati, sehingga dia sadar dan tertanam dalam dirinya bahwa dia adalah pembelajar dan tugasnya datang ke sekolah adalah belajar, bukan untuk main-main.  Kemudian ketika semua siswa telah duduk dibangku dan guru datang, hal pertama yang dilakukan adalah menyapa siswanya dengan ucapan “Selamat pagi putra-putri hebat Indonesia!!”  Kemudian menanyakan kabar dan siapa yang absen hari ini. Hal ini supaya terbentuk hubungan tidak hanya sekedar guru dengan murid, teman sekelas namun juga sebuah keluarga dengan semangat kepedulian yang ditunjukan dalam keingintahuan kabar masing-masing. Setelah itu guru dapat memulai kelas, dengan bertanya “Apakah ada yang ingin ditanyakan dari materi yang kita pelajari kemarin? Atau apakah ada kesulitan?” Di sini kita bisa melihat seberapa banyak siswa yang mengulangi materi pelajaran di rumah. Juga untuk memastikan semua siswa telah paham materi, sehingga mantap untuk melanjutkan materi berikutnya.  Kemudian jika ada siswa yang terlambat, ditanya terlebih dahulu mengapa sampai bisa terlambat? Kemudian ditanggapi sesuai dengan kondisi yang dialami siswa tersebut dengan lembut tapi juga tegas, misalnya “Oke hari ini tidak apa-apa Sari terlambat ke sekolah karena mengambil buku yang ketinggalan tapi besok-besok jangan sampai terlambat yah. Biasakan untuk menyiapkan buku seusai belajar di malam hari. Karena ibu tahu kalian anak-anak hebat yang pasti selalu menyempatkan waktu untuk belajar, benarkan anak-anak?” Ucapan semacam ini akan membuat siswa merasa lebih dihargai sekaligus dimotivasi untuk selalu belajar dirumah. Umumnya para siswa yang merasa dihargai akan selalu berusaha memenuhi ekspekstasi gurunya.  
            Dalam mengawali kegiatan mengajar, akan baik sekali jika seorang guru memberikan kata-kata motivasi misalnya “dengan membaca, aku menguasai dunia. Aku bebas mengelilingi dunia oleh Mohamaad Hatta”  untuk hari-hari berikutnya siswa-siswalah yang disuruh mencari dan menyebutkan sendiri dengan lantang nantinya di depan kelas.  Hal ini dimaksudkan, dengan mencari sendiri kata-kata motivasi dan mengatakannya di depan teman-temannya, kata-kata ini dapat lebih cepat terinternalisasi ke dalam dirinya dibandingkan hanya mendengar dari orang lain. Tentunya tidak semua siswa yang mengatakan dengan lantang kata-kata, hal ini dilakukan secara bergilir.  Sekali seminggu guru memulai kelas dengan kisah inspiratif.  Hal ini yang sering dilakukan oleh Dr. Arun Gandhi Cucu dari Pahlawan Kemerdekaan India Mahatma Gandhi ketika memulai perkuliahan di berbagai negara. Berdasarkan pengamatan beliau 30% dari mahasiswanya yang sekarang jadi pemimpin dunia adalah mereka yang dahulu mendengarkan, menyimak dan mengambil hikmah-hikmah yang terkandung dalam cerita-cerita inspiratif yang beliau sampaikan.  Orang bisa berbuat besar hanya karena terinspirasi. Sayangnya di negeri ini, kurang sekali orang-orang yang memberi dan menebarkan inspiasi bagi yang lainnya. Kita bisa lihat, bagaimana seorang guru yang bukan lulusan S1 bisa menjadikan murid-muridnya menjadi S2 bahkan sampai mengeyam pendidikan di luar negeri. Hal ini terjadi oleh di sebuah novel fenomenal Laskar Pelangi yang berasal dari kisah nyata yaitu kisah andrea hirata yang diberi inspirasi untuk menuntut ilmu di benua Eropa. Universitas Sorbon di Perancis menjadi pondasi mimpi besar yang membuat mereka mempunyai semangat dan kekuatan besar untuk benar-benar menginjakkan kaki di Eropa. Mengagumkan bukan? Namun saya lebih mengapresiasi Pak Balia, guru dibalik kesuksesan mereka. Guru yang menantang mereka untuk menjelajahi padang ilmu hingga Eropa dan Afrika. Saya kira beliau inilah yang pantas dibilang guru sukses bin hebat. Menjadikan muridnya lebih pintar jauh diatas dia padahal beliau hanya memberikan murid-muridnya inspirasi sehingga memacu mereka untuk belajar lebih dan lebih bersemangat. Ilmu yang didapatkan sang murid jauh lebih banyak bahkan lebih dari Sang guru sendiri sekalipun. Untuk bulan-bulan selanjutnya bergantian para siswa-siswa yang ditunjuk untuk berbagi cerita inspirasi. Di sini selain untuk membentuk dua interaksi, tidak hanya guru yang jadi focus, siswa juga punya giliran, dengan melatih siswa untuk berbicara di depan umum dalam konteks berlatih berbicara di depan kelas di hadapan teman-temannya.
Seperti yang kita ketahui bahwa tipe belajar orang berbeda-beda ada tipe belajar visual, audio, kinestetik.  Nah diulasan sebelumnya, kita telah mencoba mengkondisikan kelas untuk memenuhi kebutuhan pembelajar tipe visual yaitu dengan kata-kata motivasi dan tipe audio dengan bercerita. Selanjutnya untuk siswa yang lebih effektif belajar dengan kinestetik, dapat disiasati dengan memainkan drama terkait materi pembelajaran yang melibatkan seluruh siswa sebulan sekali sehingga belajarnya lebih masuk atau menginternalisasi. Hal ini dapat diimplementasikan pada pelajaran Sejarah, Geografi, dan Sosiologi. Misalnya sejarah mempraktekan bagaimana VOC menjajah orang-orang pribumi, bagaimana mereka dengan licik melakukan devide et impera. Main peran atau drama juga dapat dilakukan ketika membahas perang. Hal-hal yang akan ditekankan diberi  pendalaman karakter yang lebih kuat dibandingkan yang lain. Selain dengan bermain peran, bisa juga belajar dengan menggunakan film misal pada mata pelajaran geografi saat membahas terjadinya tsunami dan siklus hidrologi. Untuk ini kita dapat memutar  dvd fenomena alam atau bencana yang menimpa bangsa kita yang sekarang sudah dapat kita dapatkan dengan mudah dan murah di pasaran atau di download di internet. Sebelumnya para siswa disuruh mempelajari di rumah terlebih dahulu tentang materi yang akan disampaikan kemudian setelah menonton dilakukan diskusi bersama satu kelas selanjutnya mereka dibentuk kelompok-kelompok belajar. Setiap kelompok disuruh mengamati bagian-bagian tertentu misalnya pada saat membahas tsunami ada yang mengamati pada proses, penyebab dan dampak. Kemudian di bentuk diskusi besar satu kelompok, setiap anak berbicara sekaligus melatih kemampuan berbicara dan mengemukakan pendapat di depan teman-temannya. Pada tahap selanjutnya, dibentuk kelompok lanjutan yang anggotanya terdiri dari tiap-tiap kelompok sebelumnya sehingga setiap anak akan menyampaikan materi diskusi dari kelompok sebelumnya. Hal ini akan membentuk suasana belajar yang lebih dinamis dengan tingkat pemahaman yang lebih kuat. Untuk mata pelajaran seperti Kewarganegaraan yang membahas nilai-nilai, akhlak, moral dan warisan leluhur, dapat dipraktekan secara langsung oleh guru dengan siswanya. Misalnya pada pelajaran kewarganegaraan dengan tema kejujuran, Guru bisa datang tiba-tiba kemudian memanggil salah seorang siswanya kemudian mengatakan padanya bahwa dia ditunggu orang tuanya di kantor guru dan disuruh segera ke kantor guru padahal siswa tersebut tidak ditunggu siapapun di kantor guru. Kemudian siswanya kembali dan mengatakan bahwa dia tidak menemukan orang tuanya di ruang guru. Pada saat itu guru dapat member penjelasan kepada semua siswa-siswanya bahwa tadi dia sedang berbohong dan menanyakan bagaimana perasaan si anak yang telah dibohongi, juga menanyakan bagaimana pendapat teman-teman lainnya akan peristiwa “kebohongan” tadi. Guru mulai menggiring kepada topik pelajaran bahwa sekarang kita akan mempelajari arti penting mengapa harus bersikap jujur. Ketika menanyakan perasaan siswa yang tadi “dikerjain”, pastinya siswa tersebut akan menjawab tidak suka dibohongi. Maka anak-anak terutama siswa itu sendiri mengalami bagaimana rasanya dibohongi.  Hal ini lebih membekas dan memberi pemahaman yang kuat akan arti pentingnya kejujuran. Pemahaman yang akan membekas bertahun-tahun sampai anak-anak tumbuh menjadi dewasa bahkan saat mereka telah menjadi pemimpin-pemimpin negeri ini. Dapat pula ketika akan mengajarkan kesederhanaan kita mengundang orang-orang yang kurang beruntung misalnya pengemis atau tukang sampah. Kemudian para tokoh ini diminta menceritakan kehidupan sehari-harinya dan seperti biasa kita membiasakan kelas penuh dengan diskusi sehingga kelas akan terasa dinamis.  Siswa diminta mengemukakan pendapatnya masing-masing akan sesuatu yang berkaitan dengan si Tokoh yang tadi sudah menceritakan hidupnya. Para siswa diharapkan dapat dengan bebas mengambil segala sesuatu baik itu hikmah, rasa syukur, dan hal-hal yang menarik yang sesuai dengan pemahaman baru yang mereka dapat. Diakhir sesi, guru mencoba mengintegrasikan semuanya dan menambahkan hal-hal baru. Di sinilah peran guru yang acap kali disebut sebagai fasilitator.
Ada juga metode memotivasi siswa-siswa yaitu setiap minggu akhir di setiap bulannya ada pengumunan “boy or girl of the month” . Boy or Girl of The Month ini dipilih dengan beberapa kriteria misalnya selalu datang tepat waktu, membantu orang lain, mengerjakan semua tugas, menjuarai lomba tertentu, membantu teman sekelasnya belajar atau criteria apapun yang disepakati kedua belah pihak (guru dan siswa). Kalau bisa ada semacam hadiah apresiasi semacam mahkota atau kalung medali yang akan dipakai seharian oleh si boy/girl of the month di dalam kelas.
Selain sebagai fasilitator dan motivator, guru juga bertugas sebagai evaluator pembelajaran selama sebulan di kelas yang dipimpinnya. Evaluasi di sini bisa dilakukan misalnya dengan membuat ‘surat cinta’ kepada setiap muridnya yang berisi perkembangan si penerima surat selama satu bulan terakhir baik hal positif yang harus terus ditingkatkan maupun negative yang perlu diperbaiki.  Bahkan jika perlu bila ada siswa yang masuk golongan anak sangat-sangat nakal atau lambat perkembangannya, guru bisa bekerja sama dengan orang tuanya untuk terus memotivasi si anak sehingga dia akan menerima motivasi dari dua tempat sekaligus, dari kelas juga dari rumah. Hal ini akan membuat peluang berubah ke lebih baik menjadi semakin besar.  Selain guru, siswa juga dapat memberi evaluasi terhadap gurunya. Gantian ibu gurunya diberikan ‘surat cinta’ yang juga bisa berisi ucapan terima kasih siswa, saran kritik, atau apapun yang dirasakan siswa selama satu bulan belajar.
Semakin siang tentunya semangat belajar semakin menurun, untuk menjaga agar siswa selalu semangat belajar di kelas pada saat jadwal pulang sekolah bisa juga kita melakukan permainan tebak-tebakan atau cepat-tepat menjawab soal. Siapa yang paling cepat dia pulang duluan. Hal ini saya alami ketika duduk di bangku SD. Hasilnya setiap siswa selalu menyiapkan diri untuk menjadi yang terbaik untuk dapat pulang cepat. Di sini kita menciptakan kondisi kompetisi yang sehat yang membuat siswa mau tak mau harus belajar setiap hari namun dikemas dengan kondisi dan suasana games yang seru sehingga tidak terasa sedang belajar.
            Selain suasana dan system belajar yang dibuat menyenangkan seperti sedang bermain dari pagi hingga siang. Siswa dibentuk main set yang positif dan ditanamkan bahwa mereka adalah para pembelajar. Kondisi kelas sendiri harus diperhatikan supaya menambah semangat belajar di dalam kelas.  Misal ruangan kelas dicat dengan warna yang lembut yang membuat otak cepat menerima rangsang ataupun yang semangat sehingga menambah semangat untuk belajar. Misal warna biru yang menyenangkan. Selanjutnya dibuat papan pengumuman, sebagai remainder agenda-agenda kelas misalnya agenda memainkan drama, agenda bincang tokoh atau agenda Ujian Akhir Nasional. Papan pengumuman sebagai kalender penghitung mundur hari menuju UAN. Kemudian kita hias kelas sehingga menjadi ruangan yang menyenangkan dan selalu dirindukan. Pertama bisa mulai menghias kelas dengan menempelkan kata-kata motivasi di kelas misal “Manusia itu pemimpin dan saya Calon Pemimpin Indonesia”. Kata-kata ini dibuat yang proporsional saja sehingga tidak membuat kelas terlihat penuh yang justru membuat kelas tidak nyaman. Juga tidak berlebihan karena sesuatu yang berlebihan juga tidak baik. Kemudian di dinding kosong di belakang kelas dapat diisi semacam peta cita-cita setiap anak. Misal foto kemudian tulisan misalnya “Agus Calon Presiden Indonesia 2045” atau “Nina Calon Dokter 2045” sesuai dengan cita-cita masing-masing. Kemudian dibawah ditulis kalimat “Bersama cita-cita yang besar butuh usaha yang besar, butuh tekad besar, jiwa besar dan kerja keras”. Kesemuanya ini dilakukan agar setiap siswa belajar dalam suasana yang kondusif dimana semua hal positif ditanamkan termasuk menumbuhkan bahwa cita-cita yang telah digoreskan tidak hanya akan jadi angan-angan belaka. Suatu saat apa yang mereka tuliskan harus mereka wujudkan. Hal ini akan menanamkan pemahaman kepada mereka bahwa mencapai cita-cita merupakan hal yang sangat menyenangkan, namun jalan untuk mencapainya tidaklah mudah. Mereka tidak bisa hanya duduk menunggu tanpa melakukan apa-apa kemudian sekian tahun kemudian tiba-tiba cita-cita itu mereka raih dengan sendirinya. Namun, cita-cita itu harus diperoleh dengan tekad, semangat, dan kerja keras.
Selanjutkan kita juga membuat fasilitas kelas lengkap misal dengan ada LCD sehingga ketika akan memutar film lebih mudah. Namun, kiat yang satu ini tidaklah mutlak harus ada.  Terakhir sediakan kotak curhat yang dapat ditulis oleh siapapun, kapanpun untuk menulis apapun. Bisa curahan hati ketika marah kepada seseorang di kelas, juga ungkapan rasa sayang kepada seseorang. Baiknya tulisannya tidak diberi nama, kemudian sebulan sekali dibacakan bersama-sama di depan kelas sehingga lebih terasa surprisenya. Saya rasa butuh satu hari dalam sebulan yang satu waktu benar-benar untuk ajang evaluasi pembelajaran selama sebulan, ajang curhat perasaan, bermain, menanam bunga bersama di depan kelas atau sekedar piket bareng membersihkan kelas dan lingkungan sekolah, melepaskan semua pelajaran, mendekatkan hati dan saling menguatkan untuk meraih cita-cita dan menjadi manusia yang lebih baik.
            Nah dari uraian yang saya jelaskan di atas bisa kita lihat bahwa ada peran guru yang sangat besar, mulai dari menyapa dengan sapaan yang penuh motivasi, menyiapkan cerita inspirasi, menuliskan ‘surat cinta’ gambaran perkembangan muridnya satu per satu juga banyak hal lainnya yang membutuhkan waktu lebih, pikiran lebih dan rasa cinta tentunya.  Tentunya hal-hal yang dilakukan di atas dapat terjadi ketika seorang guru benar-benar mengabdikan dirinya untuk menjadi guru sekalligus pendidik. Mencintai dan menyukai profesinya dengan sepenuh hati. Mencintai dan menginginkan kesuksesan anak-anak didiknya. Namun sayangnya di negeri ini sedikit sekali orang-orang yang benar-benar ingin menjadi guru, sehingga yang terjadi adalah mengajar murid dengan ala kadarnya hanya untuk menggugurkan tugas. Tentunya yang harus dilakukan pertama-tama oleh kita semua, mahasiswa, masyarakat, pemerintah dan seluruh elemen masyarakat adalah mencerdaskan diri kita masing-masing akan pentingnya profesi guru. Betapa mulia dan besarnya jasa seorang guru untuk kemajuan bangsa ini. Pemimpin-pemimpin yang nantinya akan memimpin negeri ini tentu harus dididik terlebih dahulu oleh guru. Tidak ada yang secara instan terlahir langsung menjadi presiden, ketua DPR, Menteri atau Wirausahawan. Diharapkan ketika kita semua sadar bahwa pemimpin yang besar tentu tidak bisa diciptakan tanpa dididik terlebih dahulu oleh seorang guru, maka kita akan menyadari pentingnya menyiapkan guru-guru yang berpengetahuan luas, berjiwa besar, menginspirasi, dan mampu mengikhlasi tiap peluhnya untuk kesuksesan sang murid. Hal ini bisa diciptakan dari diri kita karena pada dasarnya setiap orang akan menjadi guru pada perannya masing-masing. Orang tua adalah guru untuk anaknya di rumah, seorang kakak juga guru untuk adiknya, senior juga guru bagi juniornya. Terakhir, perlu dilakukan sosialisasi secara gencar dan persuasif akan penting dan mulianya seorang guru. Harapannya tidak ada lagi guru-guru yang menjalankan tugasnya setengah hati dengan ‘sekedar’ mengajar, selalu bermuka masam atau bahkan malah menanamkan hal-hal kurang baik.
Saran bagi pemerintah adalah untuk lebih memperhatikan kesejahterakan para guru sebagaimana layaknya di negara-negara maju yang sangat menghargai profesi dan mengetahui betapa pentingnya guru.  Guru sebagai salah satu komponen penting yang akan menentukan kenyamanan kelas sebagai tempat yang disukai, dirindukan dan tempat pembentukan karakter juga kecerdasan anak-anak Indonesia untuk meraih cita-citanya kelak. Kelas akan menjadi istana yang menyenangkan, bukan tempat menakutkan yang selalu dihindari. Tempat pembentuk pemimpin-pemimpin besar yaitu siswa-siswa yang kelak akan menjadi pemimpin bangsa, bahkan mungkin dunia. Who knows?

Referensi dan Rujukan :
Sabri,Ahmad. (2007). Strategi Belajar Mengajar & Micro Teaching. Padang:Quantum Teaching.
Edy.(2009). I Love U, Ayah Bunda. Jakarta:Hikmah.
Jamaris, Martini.(2006). Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak.Jakarta: Grasindo.
Hoerr,R.Thomas.(2007). Buku Kerja Multiple Intelligences. Bandung:Kaifa.
Sentanu,Erbe.(2008). Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati The Power of Positive Feeling.Jakarta:Gramedia.
Muhyidin,Muhammad.(2007). Managemen ESQ Power. Jogjakarta: Diva Press.













[1]  Ahmad Sabri,”Strategi Belajar Mengajar & Micro Teaching” hal 32
[3] Erbe Sentanu, “Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati The Power of Positive Feeling”   hal 49.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar